Sunday, March 6, 2016

Everyday Adventure XI: Cloud Fish



Everyday Adventure XI
(Cloud Fish)

Hari itu kota Bravaga terlihat berbeda dari biasanya.
Kota yang sepenuhnya dihuni oleh robot dan mesin itu terlihat begitu hijau dan dipenuhi dengan bunga yang berwarna-warni. Semak belukar terlihat menghiasi jalanan utama yang membelah kota, sementara beberapa pohon tinggi terlihat bertengger dengan posisi tidak wajar di beberapa sudut kota. Beberapa di antara mereka bahkan terlihat seolah sedang setengah memanjat bangunan-bangunan kota yang terbuat dari beton dan baja.
Bukan. Kota para robot ini bukannya sudah ditinggalkan oleh penghuninya dan kemudian berubah menjadi hutan belantara, seperti nasib kota-kota lain di sekitarnya. Hanya saja, untuk kali ini, hutan belantara lah yang ‘mendatangi’ kota Bravaga. Pohon, semak, dan tanaman menjalar yang baru saja menginvasi kota itu tidak lain adalah ‘Travelling Trees’, atau ‘Pohon Pengembara’, yang kadang juga disebut sebagai ‘Tumbuhan Berjalan’.
Tentu saja kemunculan mereka tidak lengkap tanpa penghuninya.
Sosok-sosok makhluk mirip reptil yang disebut sebagai ‘Backpackers’ terlihat berseliweran di jalanan dan di sudut-sudut kota. Beberapa di antara mereka berukuran cukup besar sehingga bisa dinaiki oleh robot yang seukuran manusia dewasa. Sama seperti para Pohon Pengembara, Backpacker datang ke kota Bravaga hanya karena satu alasan utama: baru-baru ini kota itu menjadi area dengan tingkat radiasi yang sudah lama sekali tidak pernah terdeteksi di sekitar dataran ini.
Penyebabnya tidak lain adalah hujan meteor yang beberapa waktu lalu menghujani kota Bravaga dan menyebabkan kerusakan di sana-sini. Sebagai benda yang bukan berasal dari bumi, tentu saja batu-batu antariksa itu membawa serta berbagai jenis radiasi yang secara alami terkandung di dalamnya, dan radiasi itulah yang menjadi makanan paling lezat bagi para Pohon Pengembara dan Backpackers.
“Tahun ini sepertinya lebih banyak dari sebelumnya yah. Ramai sekali~!”
Maria berkomentar sambil duduk di pinggiran atap apartemen tempat tinggalnya. Gynoid berambut hitam dan bertubuh langsing itu tersenyum lebar ketika dua ekor Backpacker bersayap melintas sambil ‘berdansa’ di udara. Sementara itu tiga ekor Backpacker lainnya terlihat mengamati gerak-gerik Maria yang sedang bersandar di batang Pohon Pengembara, yang memutuskan untuk berhenti di atap apartemen Maria.
“Iya. Hujan meteor yang waktu itu kayaknya lebih heboh dari yang terakhir kali sih.” Buggy, sebuah robot berwujud mirip kecoak berkomentar pada Maria, dia lalu melompat dari dahan pohon ke atas kepala gynoid yang ada di bawahnya. “Bagus ya.”
“Iya~!” Maria mengangguk mengiyakan. “Jadi seperti ada festival, dan aku suka sekali dengan festival~!”
“Yang benar saja, ini menyebalkan.”
Ryouta langsung berkomentar mendengar ucapan Maria. Robot kekar bermata satu itu punya alasan yang bagus kenapa dia tidak menyukai situasi semacam ini.
“Tapi sekarang kamu jadi lucu deh, Ryouta~!”
Maria membalas ucapan Ryouta sambil nyengir ke arah mantan mesin perang itu. Saat ini Ryouta terlihat dikerubungi oleh setidaknya lima ekor Backpacker dalam berbagai bentuk dan warna. Mereka terlihat kebingungan karena tidak berhasil menemukan celah untuk mencapai sumber radiasi yang berasal dari dalam tubuh android besar itu.
Berbeda dengan Maria atau Buggy yang memiliki sumber tenaga Sol yang ramah lingkungan, tenaga penggerak Ryouta adalah reaktor nuklir mini yang masih memancarkan sedikit radiasi nuklir. Berhubung radiasi semacam itu adalah makanan bagi para Backpacker atau para Pohon Pengembara, mereka jadi senang sekali mendatangi Ryouta. Biasanya sih para Backpacker liar tidak mau dekat-dekat karena melihat tubuh besar Ryouta. Tapi karena saat ini mereka berjumlah sangat banyak dan sudah menyadari kalau robot besar itu tidak berbahaya, makhluk-makhluk mirip kadal itu langsung berkerumun di sekitar tubuh Ryouta. Sebenarnya sih bagi Ryouta tidak ada masalah kalau ada banyak Backpacker yang mengerumuninya, hanya saja itu membuatnya tidak bisa melakukan tugasnya sebagai robot konstruksi.
“Habis ini aku dan robot-robot konstruksi lainnya pasti bakalan sibuk sekali.”
Ryouta berkomentar sambil memandang ke arah bangunan-bangunan beton kota Bravaga yang kini dihiasi dengan semak-semak, pohon, dan tanaman rambat.
“Emangnya kenapa?” Maria bertanya sambil menoleh ke arah Ryouta.
Ryouta balas menatap ke arah kedua mata Maria, yang masih terlihat berbinar-binar penuh semangat dan rasa ingin tahu. Kalau sudah begitu, sulit bagi Ryouta untuk tidak merinding membayangkan masalah yang bakalan ditimbulkan oleh gadis robot itu.
“Yah, biar pun mereka tidak berbahaya, tapi beberapa dari mereka kan bisa menancapkan akar-akarnya ke dalam lapisan beton bangunan,” balas Ryouta, dia lalu ganti menatap Buggy. “Dan itu berarti juga jaringan kabel-kabel bawah tanah juga bakal kacau.”
Mendengar ucapan Ryouta, Buggy langsung mengeluarkan desah panjang. Sebagai robot yang bertugas memperbaiki dan merawat jaringan kabel-kabel komunikasi dan energi di bawah kota Bravaga, tentu saja dia tahu kalau tugasnya setelah ini akan jauh lebih berat dari biasanya. Itu belum ditambah fakta kalau beberapa waktu yang lalu dia nyaris tewas di jaringan bawah tanah kota. Waktu itu tubuh Buggy mengalami kerusakan berat akibat tertimpa reruntuhan lorong bawah tanah saat hujan meteor terjadi. Kalau bukan karena aksi nekat Ryouta dan Maria, Buggy pastinya tidak akan selamat dari kecelakaan itu.
“Aku enggak mau ke bawah tanah dulu untuk sementara waktu deh.” Buggy akhirnya berkomentar sambil menoleh ke arah Maria, yang balas tersenyum ke arahnya. “Untuk sementara aku libur dulu ya~!”
“Kalau Buggy libur, mau ikut main denganku?” Maria langsung bertanya pada temannya itu. “Gimana?”
“Tentu saja~!” balas Buggy dengan riang. Sementara itu Ryouta yang menyaksikan percakapan antara kedua temannya itu langsung menghela nafas panjang. Dia tahu kalau tidak lama lagi dia akan mati-matian berusaha menyelamatkan keduanya dari masalah yang mereka buat sendiri.
Semoga saja tidak ada hal buruk yang terjadi nantinya ... Ryouta bergumam dalam hati sambil menatap hutan kota Bravaga yang terbentang di hadapannya.

****


Suasana kota Bravaga yang lain dari biasanya membuat Maria semakin bersemangat menjalani kegiatan hariannya: berkeliling kota, dan sesekali, berbuat iseng kepada beberapa warga kota. Tapi untuk hari ini, gynoid itu tidak berniat membuat onar, dia hanya ingin melihat seluruh jenis Backpacker yang datang mengunjungi kota tempat tinggalnya itu. Sebab Maria menyadari kalau beberapa jenis yang dia lihat sekarang, belum pernah dia lihat sebelumnya, dan tentu saja itu membuatnya penasaran.
Selagi Maria berjalan mengelilingi kota, dia tiba-tiba saja melihat sesosok robot yang dia kenal baik. Agak berbeda dengan robot lain di kota Bravaga, robot yang ini memiliki kepala dengan bentuk yang mirip layar televisi kuno dan mengenakan jas lab panjang berwarna putih. Berbeda pula dengan hampir semua warga Bravaga, yang satu ini bukan robot biasa, dia adalah Automa, manusia yang telah lama memindahkan kesadarannya ke tubuh mekanis. Dengan kata lain, dia adalah mantan manusia.
“Dokter~~!” Maria langsung berseru menyapa robot itu sambil melompat tinggi, kemudian mendarat tepat di depannya. “Halo~!”
“Oh! Halo Maria, kau membuatku kaget.” Dokter berkomentar sambil menatap ke arah gynoid penuh semangat yang berdiri di hadapannya itu. “Ada apa? Apa kau perlu perbaikan?”
Maria menggelengkan kepalanya.
“Tidak, aku hanya sedang jalan-jalan saja. Dokter sendiri sedang apa?” balas Maria. Dia lalu menyadari kalau Dokter sedang membawa sebuah buku catatan bersampul kulit tebal, dan sepertinya tengah menuliskan sesuatu di sana. “Itu buku apa?”
Dokter mengangkat buku catatan yang dia pegang dan kemudian menyerahkannya kepada Maria. Gynoid itu langsung menerima buku yang terlihat tua itu dengan mata berbinar-binar.
“Itu catatan penelitianku soal Backpacker dan Travelling Tree,” ujar Dokter sambil menunjuk ke arah bukunya. “Berhubung kejadian seperti ini cukup langka, aku tidak mau kehilangan kesempatan mengamati jenis-jenis yang biasanya tidak hidup di sekitar kota Bravaga.”
Maria membuka dan kemudian mengamati isi buku yang di pegangnya. Seperti kata Dokter tadi, buku itu berisi tulisan dan ilustrasi berbagai jenis Backpacker dan Pohon Pengembara. Kalau melihat tebalnya buku ini, sepertinya Automa itu sudah lama sekali mengamati dan mencatat berbagai jenis makhluk-makhluk yang muncul setelah era Catastrophy itu. Hanya saja Maria agak heran kenapa Dokter masih menggunakan metode kuno dengan menuliskan data dalam lembaran kertas seperti ini, padahal ada cara yang lebih praktis seperti menggunakan memorinya sendiri atau alat pencatat elektronik lainnya. Meskipun Maria penasaran soal itu, tapi dia tetap saja lebih tertarik pada isi buku yang dipegangnya.
Maria menyadari kalau dia belum pernah melihat sebagian jenis Backpacker dan Pohon Pengembara yang ada di buku milik Dokter. Misalnya seperti Backpacker yang wujudnya mirip kadal-setengah-ikan, atau Travelling Tree yang sebagian besar tubuhnya berwujud bunga besar dengan mahkota yang berhiaskan totol-totol putih. Padahal dia termasuk salah satu robot yang paling rajin menjelajahi hutan dan reruntuhan kota manusia di sekitar kota Bravaga. Tapi tetap saja sepertinya masih banyak hal yang tidak pernah dia lihat sebelumnya, dan itu membuatnya semakin bersemangat.
“Kok aku belum pernah lihat yang ini, Dok?” Maria bertanya sambil menunjuk ke arah gambar Backpacker setengah-ikan di buku yang dipegangnya. “Ini apa?”
“Ini Backpacker yang kuberi nama ‘Cloud Fish’,” ujar Dokter sambil mengambil sebatang rokok dari saku jas labnya. “Mereka jenis Backpacker terbang yang hidup berkelompok sambil bermigrasi melintasi dataran ini, dan kurasa, mereka juga bermigrasi ke dataran lainnya. Yang ini tidak pernah diam di satu tempat, jadi kita hampir tidak pernah melihat mereka di sekitar Bravaga.”
Maria memperhatikan gambar Backpacker di buku yang dia pegang.
“Lucu ya~!” ujarnya sambil tersenyum. Dia lalu menatap lurus ke arah mata Dokter. “Tapi kalau Backpacker ini jenis langka di Bravaga, kenapa Dokter bisa tahu dan bisa menggambar ini? Pastinya Dokter pernah melihat Cloud Fish ini kan? Ayo, ceritakan padaku di mana Dokter ketemu mereka?”
Kalau saja Dokter memiliki wajah yang dilengkapi simulator ekspresi, dia pasti sudah tersenyum lebar. Rasa ingin tahu Maria dan ekspresi wajahnya yang mirip seperti anak kecil yang selalu bersemangat, membuat hampir siapa pun yang bertemu dengannya akan terpana. Selain itu, Dokter menyadari kalau Maria seringkali bersikap lebih manusiawi, bahkan bila dibandingkan dengan dirinya sendiri yang dulunya adalah manusia. Sehingga terkadang Dokter bertanya-tanya untuk apa Mother melahirkan robot dengan tingkat teknologi kepribadian secanggih ini.
“Kau mau melihat mereka?” Dokter bertanya pada Maria sambil menghembuskan asap rokoknya ke langit. “Kalau perkiraanku tepat, sekarang ini mereka seharusnya belum berpindah ke dataran lain. Ditambah lagi kota Bravaga baru saja dihujani oleh meteor yang membawa berbagai macam radiasi, kurasa ini saat yang paling pas kalau kau mau melihat para Cloud Fish itu.”
“Di mana?!” Maria langsung berseru penuh semangat. “Ayo! Katakan padaku, di mana aku bisa melihat Cloud Fish ini, Dokter?!”
Dokter tertawa pelan mendengar seruan Maria yang penuh semangat.
“Datanglah ke tempatku besok, aku akan mengantarmu ke tempat para Cloud Fish ini biasa mampir,” ujar Dokter. “Jangan lupa ajak Ryouta juga. Soalnya perjalanan kita agak jauh dan lumayan berbahaya. Kita mungkin akan butuh bantuannya.”
Mendengar ucapan Dokter, senyuman lebar terkembang di wajah Maria, membuat Gynoid itu terlihat semakin kekanakan. Kedua matanya juga berbinar-binar penuh semangat dan rasa ingin tahu yang besar.
“Jangan khawatir Dok! Aku pasti akan mengajak Ryouta ikut bersama kita~!” ujar Maria. Dia lalu menambahkan dengan cengiran lebar. “Lagipula, enggak mungkin dia menolak ikut kalau kubilang aku mau pergi jauh ke dalam hutan.”
Dokter tertawa pelan, kemudian mengelus kepala Maria dengan lembut, membuat Gynoid berambut hitam itu tersenyum malu.
“Nah, kalau begitu aku harus kembali bekerja. Masih banyak Backpacker dan Pohon Pengembara yang harus kulihat dan kucatat selagi mereka di sini,” ujarnya sambil mengulurkan sebelah tangannya.
Maria langsung mengembalikan buku tebal yang dipegangnya.
“Kalau begitu sampai besok ya, Dokter~!”
Tanpa basa-basi lagi, Maria berbalik dan berlari-lari kecil melintasi jalanan kota Bravaga yang kinin dihiasi semak-semak berbunga warna-warni. Tidak lama kemudian sosok Gynoid itu sudah menghilang di persimpangan jalan. Sementara itu, Dokter masih berdiri di tempat, dia lalu menoleh ke arah Central Tower, menara tinggi menjulang yang berdiri tegak di tengah kota Bravaga.
“Maria ya ...” ujarnya, entah pada siapa.

****

“Jadi kita ini mau kemana?”
Ryouta bertanya pada Dokter dan Maria yang berjalan dibelakangnya, sementara dia membuka jalan di depan yang sudah tertutup semak belukar dan pepohonan. Sesekali dia harus menyingkirkan bangkai kendaraan atau reruntuhan bangunan yang menghalangi jalan.
“Entah~!” sahut Maria dengan ceria, mengabaikan tatapan Ryouta yang tajam menusuk. “Pokoknya jalan saja deh~!’
“Iya, pokoknya jalan aja~!” timpal Buggy yang bertengger di atas kepala Maria. Robot berbentuk kecoak itu lalu menoleh ke arah Dokter yang berjalan di samping. “Dok, memang tempatnya jauh ya? Soalnya bahkan kami saja belum pernah menjelajah sampai ke area ini nih.”
Dokter menoleh ke arah Buggy dan menghembuskan asap rokok ke udara.
“Lumayan jauh,” ujarnya. “Dan agak berbahaya. Makanya kita mengajak Ryouta kali ini.”
“Tuh, dengar kan? Masih jauh loh~!” ujar Maria sambil nyengir, kemudian berlari kecil dan menghampiri Ryouta. “Jadi, nikmati saja ya.”
Ryouta melirik ke arah gynoid yang berjalan disampingnya sembari bersenandung kecil. Sebenarnya dia enggan menjelajah hutan dan reruntuhan kota di area ini. Sebab ada bagian dari reruntuhan kota manusia di sekitar Bravaga yang dihuni oleh banyak mutan buas dan robot liar. Beberapa kali dia dan Maria pernah bertemu dengan mereka, dan biasanya pertemuan itu tidak berakhir dengan baik ... setidaknya untuk para mutan buas dan robot liar.
Sampai sejauh ini Ryouta tidak mendeteksi adanya bahaya di sekitarnya, tapi dia tidak boleh lengah dan tetap mengaktifkan semua sensor pendeteksi di tubuhnya. Soalnya terakhir kali dia lengah saat menjelajah hutan reruntuhan kota seperti ini, sebuah robot liar nyaris mencelakakan Maria dan Buggy.
“Cloud Fish ini, sebenarnya apa sih Dok?” Maria ganti bertanya pada Dokter yang berjalan di belakangnya. “Kalau dilihat-lihat, bentuknya beda sekali dengan Backpacker terbang yang biasa kulihat.”
“Glider maksudmu?” balas Dokter. “Yah, aku sendiri tidak tahu pasti. Tapi Cloud Fish ini termasuk jenis Backpacker paling unik yang kutahu.”
“Unik bagaimana?” Kali ini Ryouta yang bertanya.
“Kalau Glider terbang dengan sayap, Cloud Fish terbang dengan memanipulasi gravitasi di sekitarnya,” jawab Dokter sambil mengambil sebatang rokok lagi dari saku jasnya. “Dan sejauh yang kutahu, mereka juga satu-satunya Backpacker yang sepertinya tidak terpengaruh dengan keberadaan Kabut Elektrik.”
“Maksudnya?” tanya Ryouta lagi. Dia mulai tertarik dengan Cloud Fish ini, terutama setelah Dokter menyebutkan soal Kabut Elektrik, kabut misterius perwujudan kekacauan ruang-waktu yang muncul setelah Catastrophy dan kepunahan ras manusia.
Dokter menghembuskan asap rokoknya. “Aku pernah melihat kawanan mereka terbang langsung ke arah Kabut Elektrik, sementara Backpacker lain langsung menghindar begitu kabut itu muncul.”
“Lalu?” Maria bertanya pada Dokter dengan mata penuh rasa ingin tahu. “Lalu bagaimana Dokter?”
“Yah, tidak ada yang terlihat istimewa sih setelah mereka keluar dari kabut itu,” jawab Dokter. “Tapi ...”
“Dokter!”
Ucapan Dokter terputus oleh seruan Ryouta. Mendengar itu, Dokter, Maria, dan Buggy langsung menghampiri Ryouta yang masih setengah jalan menyingkirkan sebatang pohon tumbang yang menghalangi jalan. Ketika mereka sampai di samping android besar itu, keduanya langsung terbelalak kaget.
Saat ini mereka sedang berada di tebing yang mengarah ke sebuah kawah besar yang dipenuhi oleh kawanan Pohon Pengembara dengan berbagai jenis dan ukuran. Tumbuh-tumbuhan yang bisa bergerak dan berpindah tempat itu terlihat dikelilingi oleh beberapa ekor Backpacker yang berbentuk mirip kadal dengan ekor ikan. Makhluk-makhluk itu tidak lain merupakan Cloud Fish yang dimaksud dalam buku milik Dokter. Para Cloud Fish itu melayang dalam sebuah kawanan kecil sambil bergerak luwes di udara, persis seperti gerakan kawanan ikan di dalam laut.
Menyaksikan pemandangan itu, Maria langsung menutup mulutnya karena kagum, sembari berusaha menahan perasaan ingin menjerit kegirangan. Kedua mata gynoid itu langsung berbinar-binar melihat kawanan Cloud Fish yang bergerak mengitari kawah.
“Kurasa kita beruntung,” ujar Dokter. “Terakhir kali aku kesini, hampir seluruh kawanan Cloud Fish sudah pergi meninggalkan area ini dan memulai migrasi mereka. Jadi aku hanya bisa melihat beberapa ekor saja. Tapi sekarang sepertinya kita datang di waktu yang sedikit lebih tepat.”
“Mereka seperti kawanan ikan ya,” celetuk Buggy sambil berpindah bertengger di atas kepala Ryouta. “Selain itu setengah badannya juga seperti ikan. Memangnya Backpacker ini apa sih, Dok?”
Dokter mengangkat bahunya.
“Aku tidak tahu pasti,” ujarnya sambil menghembuskan asap rokok ke udara. “Konon katanya mereka mendadak muncul dalam jumlah besar di seluruh dunia setelah Catastrophy terjadi. Setelah itu jumlah mereka semakin banyak dan jenisnya juga semakin bermacam-macam seiring dengan kepunahan ras manusia. Sebagai tambahan, muncul juga para Travelling Trees, tidak lama setelah Backpacker muncul. Kehadiran mereka seolah-olah melengkapi kehadiran Backpacker yang muncul terlebih dahulu.”
Dokter berhenti sejenak untuk menghembuskan asap rokoknya lagi, dia lalu bergantian menoleh ke arah Ryouta dan Maria.
“Apa ada hubungan antara Backpacker dan para Travelling Tree?” tanya Ryouta dengan nada serius. “Dari yang kami tahu di Bravaga, keduanya mampu menyerap radiasi berbahaya dan menggunakannya sebagai sumber makanan. Selain itu, sejauh yang kutahu, aku belum pernah melihat ada Backpacker memangsa Travelling Trees dan sebaliknya. Bukannya itu aneh?”
Dokter mengangguk mengiyakan.
“Aneh memang,” ujarnya. “Itu belum ditambah fakta kalau DNA Backpacker dan Travelling Trees nyaris identik. Dan kalau dugaanku benar, mereka semua seharusnya berasal dari satu nenek moyang yang sama.”
“Lalu nenek moyangnya itu siapa, Dok?” Maria bertanya dengan nada antusias.
Kali ini Dokter mengangkat bahunya.
“Aku tidak tahu,” jawabnya jujur. “Yang jelas mereka tidak pernah ada sebelum Catastrophy terjadi, dan kalau pun mereka muncul secara alami, rasanya kemajuan evolusi mereka terlalu pesat. Seperti ada sesuatu yang dari awal membuat mereka bisa beradaptasi dan berubah dengan cepat.”
Maria dan Ryouta saling pandang, sementara Buggy masih asyik mengamati beberapa ekor Cloud Fish yang masih ‘berenang’ mengitari kawah di bawahnya.
“Eh, ngomong-ngomong, Cloud Fish itu makhluk malam ya, Dok?” tanya Buggy tiba-tiba.
“Emangnya kenapa?” balas Maria.
Buggy menoleh ke arah gynoid itu dengan tatapan heran.
“Soalnya aku mendeteksi lebih banyak Cloud Fish di sekitar kita daripada yang terlihat di bawah sana,” ujarnya santai. Dia lalu menunjuk ke arah reruntuhan gedung tidak jauh dari tempat Ryouta dan kawan-kawan berada saat ini. “Di sana ada banyak sumber panas yang sama kayak yang di kawah.” Dia lalu menunjuk ke arah lain, tepatnya ke hutan lebat yang ditumbuhi oleh berbagai jenis tanaman merambat. “Di sana juga banyak.”
Mendengar ucapan Buggy, Dokter langsung berkomentar.
“Kurasa mereka bisa melihat atau merasakan kehadiran kita, kemudian memutuskan untuk bersembunyi,” jawab Automa itu sambil membuka buku catatannya. “Ini menarik. Mungkin saja waktu itu sebenarnya para Cloud Fish masih di sini, tapi karena mereka tahu aku datang, sebagian besar dari mereka memilih untuk bersembunyi.”
“Yaah~! Enggak seru ah!” gerutu Maria sambil menghela nafas panjang. Dia merasa kecewa karena tidak bisa melihat lebih banyak lagi Cloud Fish. “Memangnya kita tidak bisa memancing mereka keluar?”
“Bisa saja,” sahut Dokter. “Tapi harus dengan umpan yang tepat. Berhubung yang kita hadapi ini Backpacker, kita butuh sumber radiasi yang cukup kuat untuk menarik mereka keluar dari tempat persembunyiannya.”
Ryouta yang mendengar dan menyaksikan dialog antara Dokter dan Maria langsung menghela nafas. Android besar bermata satu itu tiba-tiba saja melepas jaket hijau lengan buntung yang dia kenakan, kemudian menyerahkannya kepada Maria, yang kini kebingungan melihat tingkah laku temannya itu.
“Eh? Kamu mau apa?” tanya Maria kebingungan. Dia lalu bergantian memandangi jaket hijau di tangannya dan sosok kekar Ryouta yang bertelanjang dada. Tubuh logamnya yang berwarna putih terlihat berkilauan diterpa teriknya sinar matahari.
“Ryouta?” tanyanya lagi.
“Kita butuh umpan kan?” tanya Ryouta dengan entengnya. “Aku punya satu yang ampuh sekali.”
Tanpa basa-basi, Ryouta langsung melompat menuruni kawah dan mendarat dengan suara dentum keras, sehingga membuat semua Cloud Fish yang ada di sekitar kawah langsung kabur seketika. Android itu lalu mendongak ke arah Maria, Buggy, dan Dokter yang masih terlihat bingung dengan aksi anehnya itu.
<Jangan ada yang mendekat. Efek sampingnya bisa berbahaya untuk Cyberbrain biasa> Ryouta bicara melalui saluran nirkabel langsung kepada Buggy dan Maria, yang masih berdiri di tepi kawah sambil kebingungan. <Selain itu, tolong rahasiakan dari kakek Tesla kalau aku melakukan ini.>
<Eh? Memangnya Ryouta mau ngapain?> tanya Maria kebingungan.
“Jangan-jangan ... AMW?” gumam Buggy.
“AMW?” Maria bertanya dengan nada heran kemudian menoleh ke arah robot mirip kecoak itu. “Apa itu?”
“Anti-Machina Weaponry,” sahut Buggy dengan nada sedikit ketakutan. “Senjata khas Guardia yang dulu dipakai buat melumpuhkan kemampuan Machina, dan bikin mereka jadi lemah. Ryouta masih punya satu di badannya.”
Kedua mata Maria langsung terbelalak mendengar ucapan Buggy, sebab Ryouta tidak pernah cerita kalau dirinya masih menyimpan sebuah senjata maut di tubuh hasil rekonstruksinya itu. Setahu Maria, android mantan Guardia itu sudah kehilangan semua senjatanya setelah tubuhnya dibuat ulang oleh Mother. Begitu tahu kalau Ryouta masih menyimpan sebuah senjata mematikan, Maria merasa sedikit ngeri, terlebih karena mendengar kalau senjata itu dibuat khusus untuk melawan para Machina.
“Enggak usah takut, Ryouta enggak bakalan benar-benar menggunakan senjata itu kok. Paling-paling dia cuma mau bikin badai elektromagnet,” ujar Buggy. Dia lalu menunjuk ke arah Ryouta dengan salah satu kakinya yang ramping. “Perhatikan.”
Saat ini Ryouta sedang berdiri sambil mengaktifkan fungsi-fungsi sistem dan tubuh yang hampir tidak pernah dia gunakan setelah dibangkitkan kembali oleh Mother. Android itu merasakan sensasi aneh, ketika reaktor nuklir di tubuhnya bekerja keras menyuplai energi yang dibutuhkan untuk mengaktifkan senjata Anti-Machina miliknya itu. Pada saat yang bersamaan, Ryouta merasakan perasaan ngeri sekaligus rindu, seolah-olah tubuhnya sudah lama sekali ingin melakukan ini.
<All system, engaging Anti-Machina Weaponry>
Dengan diiringi suara denging samar, pelat-pelat pelindung di belakang punggung Ryouta terbuka. Dari balik punggung android besar itu, muncul mesin-mesin kecil yang kemudian merangkai diri menjadi sebuah lingkaran halo yang bersinar dengan warna biru terang.
Saat ini, sosok Ryouta sebenarnya mirip seperti seorang malaikat tanpa sayap yang baru saja turun dari surga, kalau saja dia tidak terbuat dari logam dan hanya memiliki satu mata yang kini bersinar dengan warna merah. Itu belum ditambah butir-butir cahaya yang berputar di sekitar halo di punggung Ryouta, yang sesekali juga mengeluarkan kilatan listrik. Pada saat yang sama, udara di sekitar android kekar itu terlihat bergelenyar bagaikan terbuat dari benda cair.
“Indahnya ...” Maria bergumam ketika melihat sosok Ryouta dan AMW miliknya itu. “Seperti ...”
“Malaikat?” sambung Buggy.
Maria pun mengangguk mengiyakan, sedangkan Dokter terlihat seperti menunjukkan ekspresi kalau dia geram dengan perbuatan Ryouta. Meskipun tidak memiliki ekspresi wajah, Automa itu tanpa sadar meremas rokok yang masih menyala dengan sebelah tangannya. Walaupun Dokter tahu Ryouta adalah sosok Guardia yang memiliki tugas utama sebagai pelindung, tapi tetap saja, senjata seperti AMW yang dimiliki robot itu sangat berbahaya. Dalam sosoknya yang asli, Ryouta bisa dengan mudah meratakan satu blok kota dengan Anti-Machina Weaponry miliknya itu. Meskipun sekarang kekuatan senjata itu jauh lebih lemah dari yang aslinya, tapi Dokter tetap tidak menyukainya.
“Dokter! Lihat~!”
Lamunan Dokter dibuyarkan oleh seruan girang dari Maria. Gynoid itu tampak menunjuk-nunjuk ke arah dasar kawah, tempat Ryouta berdiri sambil mengaktifkan AMW-nya.
Berbeda dengan sebelumnya, kali ini ada ratusan, atau bahkan ribuan, Cloud Fish yang bergerak meliuk dan berputar di sekitar Ryouta. Para Backpacker yang tadi bersembunyi itu, kini berebutan keluar dari tempat persembunyiannya untuk mendapatkan santapan lezat yang keluar dari tubuh logam Ryouta. Makhluk-makhluk mungil dengan berbagai warna dan corak itu terlihat bagaikan berdansa di sekitar sosok Ryouta yang kini memancarkan radiasi elektromagnetik ke segala arah. Kulit Cloud Fish yang bersisik halus serta memantulkan cahaya matahari sore itu berkilau indah ketika mereka melayang mengitari Ryouta. Sesekali mereka terlihat melakukan gerakan meliuk dan berputar, seolah mereka sedang menari kegirangan.
Tidak hanya Cloud Fish, ternyata aksi Ryouta juga mengundang kehadiran jenis Backpacker lainnya, seperti Glider dan Crawler. Mereka semua akhirnya terpancing keluar dari tempat persembunyiannya dan bergerak cepat mendekati sumber makanannya itu.
Saat ini, sosok Ryouta terlihat begitu mengesankan, dengan tubuh yang memancarkan cahaya dan dikelilingi oleh begitu banyak Backpacker yang bergerak melingkar dengan teratur. Seolah-olah makhluk-makhluk itu sedang memutari sebuah pusat yang begitu sakral bagi mereka. Pada saat yang sama, makhluk-makhluk dari era Catastrophy itu mulai bersuara merdu. Seakan-akan mereka sedang melakukan pertunjukan paduan suara sambil menari berputar mengelilingi Ryouta.
“Luar biasa!”
Dokter yang melihat pemandangan menakjubkan itu langsung melupakan rasa bencinya. Ini pertama kalinya dia melihat begitu banyak Backpacker berkumpul di satu tempat yang sama dan menunjukkan gerak teratur seperti itu. Ini juga pertama kalinya Dokter menyaksikan berbagai jenis Backpacker yang berkumpul dan melakukan rangkaian tarian, serta nyanyian seperti itu. Tidak perlu diingatkan lagi, Automa itu langsung menuliskan semua detail yang bisa dia amati ke dalam buku catatannya.
Sementara itu Maria sama sekali tidak bisa mengalihkan pandangannya dari kejadian menakjubkan yang terjadi tidak jauh di hadapannya. Gynoid itu mati-matian harus menahan diri untuk tidak melompat ke dasar kawah dan ikut menari berputar mengelilingi Ryouta. Dia tahu kalau radiasi elektromagnetik di bawah sana begitu kuat dan sangat berbahanya baginya, atau pun bagi Buggy. Bahkan dari tempatnya berdiri, Maria bisa merasakan gangguan kecil dalam sistem tubuhnya, sama seperti saat dia tersesat dalam Kabut Elektrik beberapa waktu yang lalu.
Pertunjukan menakjubkan yang dipertunjukkan oleh Ryouta dan AMW-nya itu hanya berlangsung selama beberapa menit saja. Setelah Ryouta menghentikan aliran energi ke lingkaran halo di punggungnya, perlahan-lahan para Backpacker yang berkumpul di sekelilingnya pun kembali menyelinap ke tempat persembunyian masing-masing. Hanya ada beberapa Glider dan Cloud Fish yang tampak masih berusaha mencari sumber radiasi yang kini hanya berasal dari generator nuklir di dalam tubuh Ryouta.
 Sambil menunggu seluruh sistem dan tubuhnya kembali normal, Ryouta mendongak ke atas, tepatnya ke arah Maria yang balas tersenyum lebar ke arahnya.
<Bagaimana?> Ryouta bertanya pada gynoid itu melalui komunikasi nirkabel.
Maria mengangguk bersemangat.
<ITU TADI HEBAT SEKALI~!> jeritnya begitu keras. <Encore~~! Lagi~!>
Ryouta menghela nafas panjang.
<Maaf, dengan tubuhku yang sekarang, aku hanya bisa menggunakan ini sekali dalam beberapa hari ini> balas Ryouta sambil menepuk dadanya. <Stabiliser dan banyak part lain tubuhku bisa rusak parah kalau nekat melakukan itu sekali lagi.>
Maria tampak kecewa, tapi dia tidak boleh protes, karena sudah dia sudah melihat sebuah pertunjukan yang luar biasa. Oleh karena itu, dia harus merasa puas. Terlebih karena Ryouta kini terlihat lelah setelah mengaktifkan AMW miliknya itu. 
 <Kalau begitu, ayo kita pulang saja~! Sebentar lagi gelap kan?> Maria akhirnya bicara lagi pada Ryouta sambil nyengir lebar ke arah robot bertubuh kekar itu. <Kau juga pasti capek dan butuh istirahat kan?>
Ryouta mengangguk dan tersenyum dalam hati.
<Ya. Ayo kita pulang.>

****

Sama seperti waktu mereka datang, perjalanan pulang Maria dan kawan-kawannya nyaris tanpa hambatan. Hanya ada sekali kejadian waktu seekor mutan mencoba menerkam Buggy, kemudian nyaris tersedak sampai mati gara-gara tidak bisa menelan robot kecoak itu. Tapi selebihnya, perjalanan mereka lancar dan tidak lama kemudian, mereka pun sampai di rumah Dokter yang berada di tengah reruntuhan kota. Karena area tersebut sudah termasuk area aman di tepi kota Bravaga, Maria dan Buggy memutuskan untuk pulang terlebih dahulu, sementara Ryouta masih ingin bicara sedikit dengan Dokter.
“Sampai jumpa besok~!”
Maria berseru riang selagi dia berlari menuju ke arah jalur Pohon Pengembara yang menjadi alat transportasi ke kota. Tidak lama kemudian sosok Maria, dan Buggy yang menumpang di atas kepalanya, sudah menghilang ditelan kerimbunan hutan di sekitarnya. Sementara itu, Ryouta dan Dokter masih berdiri saling berhadapan.
“Ini pertama kalinya aku melihatmu mengeluarkan senjata.” Dokter berkomentar sambil menghidupkan sebatang rokok. “Kenapa?”
Ryouta menoleh ke arah Dokter.
“Aku tidak mengerti maksudmu?” tanya Ryouta.
“Kenapa kau tiba-tiba saja mau menggunakan senjata mautmu itu?” Dokter lalu menunjuk ke arah Ryouta dengan batang rokoknya yang menyala. “Aku kenal kau cukup lama. Walaupun masih menyimpan satu-dua senjata dalam tubuhmu, tapi kau tidak pernah mau menggunakannya. Tapi kenapa sekarang kau tiba-tiba saja mengaktifkan senjatamu, terlebih itu adalah Anti-Machina Weaponry?”
Ryouta mengangkat bahunya. Dia benar-benar tidak tahu kenapa dia tiba-tiba saja mau mengaktifkan Anti-Machina Weaponry miliknya itu, terlebih karena alasan yang bisa dibilang cukup sepele, yaitu dia ingin memancing para Cloud Fish keluar dari tempat persembunyiannya.
“Aku ... tidak tahu,” jawab Ryouta jujur. “Itu terjadi begitu saja.”
Dokter menatap lurus ke arah mata Ryouta yang bulat dan besar. Dalam benaknya, Automa itu bertanya-tanya sejauh mana Guardia tua ini telah berubah sejak dia dibangkitkan kembali oleh Mother. Waktu pertama kali dia bertemu dengan Ryouta, android itu sama seperti rata-rata robot dengan kecerdasan buatan di era sebelum Catastrophy. Tapi perlahan-lahan Dokter menyadari ada banyak perubahan pada diri Ryouta, baik pada tingkat emosi dan kecerdasannya.
“Kau banyak berubah,” ujar Dokter sambil menyalakan entah batang rokok ke berapa hari ini. Dia lalu memandang ke arah cahaya terang di kejauhan yang berasal dari kota Bravaga. “Kau dan semua robot di kota Bravaga. Kalian semua berubah sejak dibangunkan atau diperbaiki oleh Mother.”
Ryouta menoleh ke arah Automa itu.
“Dan apakah itu buruk?” tanyanya dengan nada serius.
Dokter menggelengkan kepalanya.
“Tidak. Justru itu bagus,” ujarnya. “Kalian semua bersikap semakin mirip manusia.”
Ryouta memicingkan matanya mendengar ucapan Automa di hadapannya itu.
“Apa itu artinya robot sepertiku juga mulai memiliki sifat-sifat buruk manusia?” tanya Ryouta. Dia lalu memandang ke sekelilingnya, ke arah kota yang hancur akibat perang dan bencana alam. “Seperti hasrat ingin menguasai dan menghancurkan alam sekitarnya?”
Dokter terkejut mendengar ucapan Ryouta. Dia tidak menyangka android besar itu akan mengajukan pertanyaan semacam itu. Meskipun demikian, Dokter memahami kalau pertanyaan itu berasal dari fakta bahwa Ryouta dulunya adalah mesin perang. Meskipun dia adalah ‘Guardia’, atau pelindung, tetap saja Ryouta adalah sebuah robot yang dirancang untuk melawan dan menghancurkan robot lainnya atau bahkan ... manusia lainnya.
“Sejujurnya ... aku tidak tahu.” Dokter akhirnya bicara setelah berpikir selama beberapa saat. Dia lalu mengetuk dada Ryouta dengan sebelah tangannya. “Tapi aku percaya kau dan robot-robot seperti Maria dan Buggy, tidak akan melakukan kesalahan yang sama seperti yang kami lakukan di masa lalu. Kalian bukan generasi penghuni bumi yang hanya akan merusak dan menghancurkan alam di sekitar kalian. Dari yang kuamati sampai saat ini, justru para robot lah yang berusaha memperbaiki kerusakan yang telah dibuat oleh kami, manusia. Dan kurasa untuk itulah Mother menanamkan sesuatu yang lain pada diri kalian.”
“Dan apa itu, Dokter?” tanya Ryouta penasaran
“Kebebasan ...” ujar Dokter.
Automa tua itu berhenti sejenak untuk menghembuskan asap rokoknya ke langit malam yang berhiaskan bintang-bintang dan bulan yang setengah hancur, kemudian melanjutkan perkataannya.
“... dan juga hati yang penuh rasa kemanusiaan.”  

****

~FIN?~

red_rackham 2015
  

No comments: