Monday, February 1, 2016

9th Spiral: Thunderclap



Ada yang bilang kalau cuaca di jaman sekarang ini susah ditebak perilakunya. Bisa jadi pagi hari hujan deras, kemudian siangnya matahari bersinar dengan terik, diikuti dengan gerimis di sore hari, dan hujan angin di malam hari.
Apalagi cuaca di kota Jakarta.
Sudah tidak aneh lagi ketika di satu sisi kota sedang dilanda hujan lebat disertai angin kencang, tapi di kota satelit terdekat sama sekali tidak ada tanda-tanda akan hujan.
Cuaca lokal yang sulit diprediksi –dan menyebalkan– sudah bukan lagi hal baru bagiku. Sudah sering aku berkendara dalam dua sampai tiga tipe cuaca sekaligus hanya dalam rentang waktu beberapa jam saja. Mungkin itu sebabnya sekarang ini televisi sudah hampir tidak pernah lagi menampilkan yang namanya ramalan cuaca, sebab ramalan itu hampir bisa dipastikan akan meleset. Yah, sebagai gantinya sih sekarang aku bisa menggunakan aplikasi di smartphone untuk melihat ramalan cuaca setiap hari, tapi tetap saja hasilnya sering salah total.
Seperti sekarang misalnya.
Aplikasi ramalan cuaca hari ini bilang kalau pagi sampai sore ini cuaca akan cerah-berawan, dengan perkiraan hujan ringan di malam hari. Persentase kemungkinan turunnya hujan sepanjang siang hari ini hanya sekitar 2 persen saja.
Apanya?
Belum lama setelah aku meninggalkan kantor untuk mengantar dokumen dan paket seperti biasanya, kondisi langit berubah dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Matahari yang tadinya bersinar cerah, kini sudah ditutupi oleh awan hitam tebal yang menggantung berat di langit. Saking beratnya, seolah-olah awan itu bisa jatuh sewaktu-waktu menimpa warga kota Jakarta yang sedang sibuk beraktivitas di bawahnya.
Kemudian hanya dalam waktu kurang dari setengah jam, hujan mulai turun dengan derasnya, seolah-olah langit sedang menumpahkan kesedihannya pada warga kota yang telah mengotori dirinya. Kilatan petir, disusul suara gemuruh mengerikan, terdengar bersahut-sahutan dari atas sana. Seolah-olah ingin mengingatkan manusia di bawah sana akan kengerian dari kemarahan sang langit yang sedang berduka.
Oke. Aku mulai meracau.
Tapi harus kuakui kalau suara gemuruh guntur di atas sana benar-benar menakutkan. Sesekali petir terlihat menyambar begitu dekat, sehingga suara gelegar yang dihasilkan sampai menggetarkan dadaku.
Mengerikan sekali.

Sambil menghela nafas panjang, aku bersandar ke tiang pos satpam tempatku berlindung. Saat ini aku berada di sebuah kawasan pertokoan yang ada di pinggiran daerah Depok. Yah, sejujurnya sih aku tidak begitu mengenal daerah ini dan juga bukan merupakan daerah operasi normalku. Tapi berhubung pagi ini ada paket kilat khusus yang harus diantar ke salah satu klien perusahaan di sekitar sini, mau tidak mau aku harus ke sini.
Untungnya aku terjebak hujan setelah selesai mengantar paket khusus itu, kalau tidak bisa panjang urusannya.
Sekilas aku memandang ke sekelilingku. Saat ini aku berada di kawasan ruko yang sepertinya baru selesai dibangun dan terletak di sekitar lapangan berumput, yang dulunya mungkin adalah hamparan sawah atau ladang. Namun entah karena himpitan ekonomi, tuntutan hidup yang tinggi, atau sekedar karena kebutuhan materiil, kini lahan hijau itu sudah disulap jadi sesuatu yang digaung-gaungkan sebagai ‘green city’ atau semacamnya. Deretan rumah-rumah mewah, mal yang baru setengah dibangun, dan barisan ruko megah dengan berbagai warna, kini menggantikan hamparan hijau padi, jagung, atau tebu yang dulu menguasai daerah ini.
Sambil melirik ke arah layar ponselku, aku memandang ke arah langit yang masih saja menggantung berat di atas sana, sembari menumpahkan isinya ke bumi. Kalau dilihat dari kondisinya, hujan masih akan terus turun sampai setidaknya satu atau dua jam ke depan. Bisa gawat kalau begitu, soalnya aku masih harus mengantar satu paket lagi. Sialnya aku juga sedang tidak membawa jas hujan atau ponco, sehingga mau tidak mau aku harus sabar menunggu.
Karena tidak banyak yang bisa kulakukan, aku melamun sambil memandang ke arah lapangan berumput di depanku. Tidak lama kemudian aku melihat tiga orang anak laki-laki berlari dengan riang ke tengah lapangan. Suara pekik girang mereka terdengar sampai ke pos satpam, tempatku duduk sekarang. Wajah-wajah gembira anak-anak itu dengan cepat mengalihkan rasa bosan dan jengkelku karena harus terjebak hujan seperti ini. Bergantian, anak-anak itu saling berkejaran dan sesekali melemparkan rumput atau lumpur ke arah temannya.
Enak juga ya jadi anak kecil. Segala sesuatunya bisa dibuat dan dianggap sebagai permainan. Bahkan di tengah cuaca buruk seperti ini, mereka masih bisa menemukan kesenangan untuk dibagikan pada teman-temannya.
“Om, kok om diam saja di sini?”
Tiba-tiba aku menyadari ada satu anak kecil yang datang menghampiriku. Aku mengamati anak perempuan itu selama beberapa saat. Kalau dilihat dari penampilannya, anak ini sepertinya berasal dari perkampungan yang masih bertahan di tengah himpitan pengembangan perumahan mewah ini. Pakaiannya terlihat sederhana dan agak lusuh, tapi wajah dan kedua matanya memancarkan semangat hidup dan kegembiraan yang membuatku iri. Tangannya yang mungil terlihat sedang memegang sebuah sangkar kecil yang sepertinya terbuat dari bambu.
“Om lagi berlindung dari hujan,” ujarku sambil tersenyum.
“Ooh. Memangnya om enggak suka hujan ya?” tanya anak itu lagi.
Aku mengangguk.
“Iya. Soalnya nanti baju om basah semua. Terus barang-barang om di dalam sini bisa rusak semua kena air,” jawabku sambil menepuk ransel di sampingku. “Kalau rusak, nanti om bisa kena marah sama bos.”
“Memangnya om ini siapa dan lagi ngapain sih?” tanya anak kecil itu sambil memiringkan kepalanya. “Aneh deh.”
Aku tertawa pelan.
“Om ini kurir paket. Itu, orang yang kerjanya mengantar surat dan paket orang lain,” ujarku. Anak kecil di depanku lalu membuat ekspresi kagum.
“Ooh. Om ini tukang pos ya?” tanyanya, untuk yang kesekian kalinya.  
“Iya. Kurang lebih begitu,” jawabku. Kemudian aku menoleh ke arah tiga orang anak yang masih bermain lumpur di tengah lapangan. “Itu teman-temanmu?”
Anak perempuan di depanku ini langsung mengangguk penuh semangat.
“Iya om! Kami lagi siap-siap nih. Soalnya hari ini kata mama ada yang besar datang,” ujarnya dengan riang. “Pokoknya enggak boleh ketinggalan nih, om.”  
Aku tidak mengerti apa maksudnya, tapi yang jelas anak ini terlihat bersemangat. Mungkin ada hubungannya dengan permainan yang akan dimainkan bersama teman-temannya itu. Tapi karena penasaran, aku bertanya lagi pada anak di depanku ini.
“Apanya yang tidak boleh ketinggalan?” tanyaku.
“Itu om, yang dari atas sana.” Si anak menunjuk ke arah langit gelap yang masih menumpahkan air hujan dengan lebatnya. “Kalau ketinggalan, lama nunggu ada yang besar lagi.”
Aku mengerutkan dahi berusaha memahami perkataannya, tapi aku merasa tidak perlu menanyakan lebih jauh lagi. Toh dia ini masih anak-anak, pastinya ucapannya barusan itu tidak benar-benar berarti sesuatu hal yang penting.
“Ah! Itu dia datang!”
Tiba-tiba si anak perempuan memekik kegirangan sambil menunjuk ke langit. Aku pun memandang mengikuti arah yang dia tunjuk, kemudian melihat kilatan-kilatan terang bersinar bersahut-sahutan dari balik awan tebal. Awalnya hanya kilatan-kilatan cahaya kecil, namun lama kelamaan kilatan-kilatan itu mulai membentuk garis-garis zig-zag tidak karuan yang saling bertautan.
Kemudian tanpa peringatan sama sekali ... sebuah kilatan petir menyambar lapangan, tepat di tempat tiga orang anak kecil yang kulihat tadi.
Kilatan cahaya yang muncul akibat sambaran itu langsung membutakan penglihatanku dan memaksaku menutup mata karena silau, sekaligus karena kaget bukan main. Karena sambarannya begitu dekat, suara guntur yang menyusul beberapa detik kemudian terdengar begitu dahsyat. Saking kerasnya, kaca-kaca jendela ruko di sekitarku langsung berderak begitu nyaring, hingga aku sempat takut kaca-kaca tebal itu akan pecah berhamburan ke segala arah.
Dengan ngeri aku membuka mata dan berharap tidak terjadi apa-apa dengan anak-anak yang sedang bermain di lapangan rumput tadi. Soalnya aku sudah beberapa kali melihat tayangan pemain bola atau pemain golf yang terkena sambaran petir di televisi atau di internet. Meskipun tidak kena secara langsung, tapi aliran listrik yang mengalir lewat hujan dan genangan air di tanah tetap saja sangat mematikan!
Ketakutanku memuncak saat melihat tiga sosok mungil yang terbaring telentang di atas tanah.
“ASTAGA!”
Tanpa sadar aku berteriak ketakutan. Tidak pakai basa-basi lagi, aku langsung berlari melintasi jalanan dan bergegas menghampiri anak-anak malang yang baru terkena sambaran petir itu. Sambil berlari, aku sungguh-sungguh berdoa dalam hati semoga nyawa mereka bertiga masih bisa selamat.
Namun belum sempat aku memeriksa ketiganya, satu persatu dari mereka bangun, kemudian saling pandang. Betapa kagetnya aku ketika mendengar mereka justru tertawa kegirangan. Seolah-olah kejadian mengerikan barusan itu hanyalah semacam permainan bagi ketiganya.
“Kalian tidak apa-apa?!”
Aku berlari menghampiri salah seorang anak yang sedang berdiri sambil membersihkan lumpur yang menempel di wajahnya. Senyuman lebar terpancar dari wajah anak itu. Padahal tadi dia dan ketiga temannya baru saja disambar petir.
“Enggak apa-apa kok~!” ujar anak itu dengan santainya. “Om ini siapa?”
“Ini om tukang pos.” Anak perempuan yang tadi menyapaku di pos satpam ternyata sudah berjalan menghampiri dan ketiga temannya. Dia lalu mengangkat kurungan bambu yang dia bawa. “Dapat enggak, Budi?”
Budi, anak laki-laki yang tadi membersihkan lumpur dari wajahnya langsung menggeleng.
“Enggak nih. Yang tadi itu kelewat gesit,” ujarnya sambil memasang tampang cemberut. Dia lalu menoleh ke dua orang temannya. “Padahal tadi Agus dan Imam udah megang buntutnya, tapi dia tetap aja lepas.”
Aku menoleh memandang dua anak lainnya, yang juga terlihat baik-baik saja. Wajah dan pakaian mereka semua belepotan lumpur, namun tidak ada luka sedikit pun yang terlihat di sekujur tubuh mereka. Itu membuatku langsung menghela nafas lega. Aku tidak tahu mereka sedang apa tadi, tapi untunglah sambaran petir barusan tidak melukai seorang pun dari mereka.
“Ih, kalian ini payah~! Masa udah bertiga masih enggak bisa nangkap juga?” Anak perempuan di sampingku berseru protes. “Padahal aku udah susah-susah bawa kurungan nih dari rumah. Gimana sih?”
“Eh, Putri, jangan nyalahin kami dong. Coba deh kamu yang tangkap,” balas Budi lagi. Dia lalu menoleh ke anak berambut keriting di sampingnya. “Emangnya gampang? Iya enggak, ‘Gus?”
Anak yang bernama Agus mengangguk tanpa menjawab. Putri langsung terlihat kesal. Dia pun meletakkan sangkar bambu yang dia bawa ke tanah, kemudian menggulung lengan bajunya sambil merengut.
“Liat aja, yang berikutnya pasti kutangkap!” ujarnya sambil menatap ke atas, ke arah langit yang mulai bergemuruh lagi.
Aku memandang keempat anak-anak ini dengan tatapan ngeri bercampur bingung. Tapi satu hal yang kupahami adalah mereka dalam bahaya. Sambaran petir yang tadi memang sepertinya tidak melukai mereka, tapi mungkin itu hanya karena kebetulan saja. Tapi mungkin saja sambaran petir selanjutnya bisa berakibat fatal.
Yah, meski kata orang “petir tidak menyambar di tempat yang sama dua kali”, tapi tetap saja berbahaya berada di tengah lapangan terbuka seperti ini! Apalagi kalau mendengar suara gemuruh guntur di atas sana terdengar tidak bersahabat. Terlalu riskan membiarkan anak-anak ini tetap bermain di tengah lapangan seperti ini.
“Namamu Putri ya? Ayo ajak teman-teman yang lainnya berteduh dulu. Bahaya loh main di tengah lapangan pas hujan-hujan begini. Nanti kalian bisa disambar petir lagi.” Aku berkata sambil menepuk bahu Putri, yang masih memandangi awan hitam di langit dengan seksama. “Hei, ayo!”
Sayangnya baik Putri maupun ketiga temannya sama sekali tidak menghiraukan ajakanku. Mereka kini menatap ke arah awan gelap di atas sana. Seolah-olah mereka sedang mencari sesuatu di balik awan tebal yang menggantung rendah itu. Mata-mata mereka terlihat jeli menyisir setiap bagian dari gumpalan awan, dan setiap kali kilatan petir muncul, anak-anak itu langsung menunjukkan ekspresi penuh harap.
“Hei! Ini berbahaya loh!” Sekali lagi aku menepuk bahu Putri, kemudian menoleh ke arah ketiga temannya, yang masih saja tidak menggubris ajakanku. “Hei!”
“Sebentar! Ada yang besar lagi nih, om!” Tiba-tiba Putri bicara sambil meraih kurungan bambu yang tadi dia letakkan di tanah. Dia lalu berseru ke arah ketiga temannya. “Oi~! Yang satu ini besar loh! Jangan sampai lepas!”
Sebelum sempat kucegah, Putri dan ketiga temannya mendadak berlari menjauh ke sisi lain lapangan rumput tempat kami berada. Mereka lalu berhenti di salah satu bukit kecil, tidak jauh dari tempatku berdiri, kemudian menengadah ke atas. Dengan ngeri aku ikut memandang ke arah langit, kemudian menyaksikan kilatan-kilatan petir kembali muncul dan saling bertautan. Persis seperti yang kulihat sebelum kilatan itu menyambar ke tengah lapangan.
Sedetik kemudian ... sebuah kilatan dahsyat kembali menghujam dengan kekuatan penuh ke bumi ... tepatnya ke arah empat anak kecil tidak berdaya yang berdiri tepat di bawahnya.  
Aku yakin aku baru saja menjerit ketakutan, tapi jeritanku langsung ditelan suara gemuruh dahsyat, disertai semacam gelombang kejut yang membuatku terjungkal ke belakang, seolah-olah aku baru saja ditabrak oleh mobil yang tidak terlihat.
Selama beberapa saat berikutnya, pandanganku kabur dan berkunang-kunang.
Sekujur tubuhku terasa kebas dan seperti baru saja ditusuk oleh ribuan jarum.
Telingaku berdenging tidak karuan.
Seluruh dunia juga terasa berputar-putar.
Perlahan-lahan aku menyadari kalau sambaran petir barusan pastinya juga telah mengenai diriku. Dengan ngeri aku berusaha meraba tubuhku sendiri, memastikan seluruh bagiannya masih utuh dan tidak terbakar.
“Dapaaat~~!”
Di sela-sela suara denging yang masih bergema dalam telingaku, aku mendengar suara Putri berseru kegirangan. Perlahan-lahan aku menoleh ke arah anak perempuan itu dan menemukan dirinya berdiri sambil memegangi kurungan bambu tinggi-tinggi di atas kepalanya. Ketiga temannya yang masih terbaring perlahan-lahan bangkit. Wajah mereka semua menampakkan kegembiraan yang tidak wajar ... mengingat keempat anak kecil itu baru saja terkena sambaran petir.
“Teman-teman~! Aku dapat nih~!”
Putri kembali bersorak girang sambil menunjuk ke arah sangkar yang dia pegang. Seekor ular yang memancarkan sinar terlihat bergerak berputar-putar dalam kandang yang terbuat dari bambu itu. Sejenak ular itu berderik dan mengejang, seolah berusaha membebaskan diri dari jeruji yang mengekangnya, tapi usahanya sia-sia. Entah bagaimana caranya, jeruji-jeruji yang tampak rapuh itu seolah terbuat dari sesuatu yang amat kuat. Setelah meronta beberapa saat, ular itu akhirnya menyerah dan memilih bergelung diam di tengah sangkar, sementara percikan listrik yang menyelimuti tubuhnya sudah hilang dan berganti dengan butir-butir cahaya yang melayang berputar di sekeliling tubuh rampingnya.
“Itu ... apa?”
Aku akhirnya bisa bicara setelah rasa kebas dan kesemutan menghilang dari tubuhku, terutama dari lidah dan mulutku. Pandanganku juga sudah pulih sepenuhnya. Kunang-kunang yang tadi menari di depan mataku kini sudah menghilang, hanya saja telingaku masih terasa sakit dan berdenging. Aku hanya berharap efek mendengarkan suara guntur dari dekat ini tidak permanen. Soalnya aku tidak mau pendengaranku bermasalah sebelum waktunya. 
“Petir, om~!” Putri menyahut sambil tersenyum lebar. Dia lalu menunjukkan makhluk aneh di sangkarnya itu pada ketiga temannya. “Tuh lihat kan, kalau aku yang nangkap pasti dapat. Wee~!”
Putri menjulurkan lidah pada ketiga temannya yang memasang tampang cemberut, iri, sekaligus kagum. Sementara itu, aku masih berdiri melongo seperti orang dungu. Otakku masih menolak bekerja sama untuk memahami kejadian yang baru saja terjadi.
“Petir?” tanyaku lagi sambil menunjuk ke arah ular yang kini memercikkan percikan listrik ke segala arah. “Ular itu?”
“Iya, om. Yang ini besar loh. Biasanya kami cuma dapat yang segini nih.” Kali ini Budi yang menjawab sambil mengangkat kelingkingnya sambi nyengir lebar. “Tangkapan bagus nih, Putri.”
Putri membusungkan dadanya.
“Iya dong, siapa dulu yang nangkap~!” ujarnya bangga. Dia lalu menoleh ke arahku yang masih terlihat bingung. “Om enggak usah bingung deh. Ini kan cuma petir. Semua orang bisa nangkap petir kok sekarang ini.”
“Asal tahu caranya, om,” timpal Budi. “Iya enggak, ‘Gus?”
Anak yang bernama Agus kembali mengangguk mengiakan tanpa mengucapkan apapun. Dia lalu menarik-narik lengan baju Budi, lalu menunjuk ke arah perkampungan di balik tembok batako di seberang lapangan. Sementara itu anak lain yang bernama Imam ternyata sudah berjalan melintasi lapangan ke arah perkampungan, yang sepertinya, merupakan tempat tinggal anak-anak aneh ini.
“Eh, om, udah dulu ya. Kata Agus kita harus pulang nih. Soalnya hujan udah reda dan udah mau sore nih. Kalau pulang kemalaman nanti kami kena marah.” Budi kemudian menoleh ke arah Putri. “’Put, pulang yuk~!”
Putri mengangguk, kemudian berbalik ke arahku yang masih berusaha mencerna seluruh rangkaian kejadian barusan.
“Om, aku pulang dulu ya,” ujarnya sambil nyengir lebar dan memperlihatkan ompong di satu gigi depannya. “Sampai ketemu lagi om tukang pos~!”
Sebelum aku sempat mengatakan apapun, anak-anak penangkap petir itu sudah berlari pergi sambil tertawa-tawa. Ular aneh yang mereka tangkap terlihat meninggalkan jejak cahaya ketika makhluk itu dibawa pergi dalam sangkar bambu milik Putri. Sejenak aku menyaksikan kedua matanya yang berwarna hitam menatap langsung ke arahku, mulutnya yang dipenuhi gigi taring tajam pun terbuka lebar, seolah-olah dia ingin mengucapkan sesuatu.
Mungkin meminta pertolongan.
Tapi karena aku tidak mengerti, dan otakku masih susah diajak bekerja sama, aku tidak melakukan apapun dan hanya diam di tempat. Karena tidak ada yang terjadi, ular itu pun kembali bergelung diam dalam sangkarnya, sembari melecutkan kilatan-kilatan listrik ke jeruji kurungan bambunya.
Masih sambil diam terpaku, aku menyaksikan anak-anak itu berlari menerobos lubang di dinding pagar batako di seberang lapangan. Tidak lama kemudian, satu persatu anak-anak misterius itu pun menghilang dari pandanganku.
Sementara itu aku masih berdiri sambil mencubit kedua pipiku, seperti yang biasa kulakukan untuk memastikan kalau ini bukan cuma mimpi atau khayalan.
Seperti biasanya, ini bukan mimpi.
Masih setengah tidak percaya, aku memandang ke arah perkampungan kecil di seberang lapangan tempatku berdiri sekarang, kemudian ke arah rumput yang hangus terbakar akibat sambaran petir tadi, dan terakhir ke arah langit yang perlahan-lahan menyibakkan tabir awannya.
“Yang tadi itu ... apa?” gumamku kebingungan.

****

Lama berselang baru aku mengingat kembali kejadian aneh di tengah hujan lebat waktu itu. Kesibukanku selama beberapa hari belakangan ini membuatku tidak sempat memikirkan lebih lanjut tentang pertemuanku dengan anak-anak aneh yang bisa menangkap ‘petir’. Itu belum ditambah beberapa urusan anehku dengan pohon yang bisa bicara, kawanan merpati yang suka bergosip, dan jembatan yang hilang.
Tapi itu cerita lain.
Yang jelas, baru belakangan aku teringat tentang sebuah legenda, atau cerita rakyat, soal seorang pria yang bisa menangkap petir dengan kedua tangannya.
Namanya Ki Ageng Selo, seorang petapa sakti keturunan raja terakhir Kerajaan Majapahit, yang konon juga merupakan moyang dari para pendiri Kerajaan Mataram.
Ada beberapa versi soal peristiwa dirinya menangkap dan memenjarakan petir. Ada yang bilang dia menangkap petir yang kemudian menjelma menjadi seorang kakek-kakek, ada juga yang mengatakan Ki Ageng Selo menangkap petir dan memenjarakannya dalam sebongkah batu. Yang manapun itu, pokoknya di akhir cerita, sang petir berhasil melarikan diri ketika dibawa ke hadapan para penguasa kerajaan saat itu. Tentu saja pelarian sang petir meninggalkan jejak kehancuran. Dari kedua versi cerita, setidaknya satu rumah tempat petir itu ditawan hancur berantakan saat dia kabur dari penjara yang mengurungnya. Meskipun gagal menahan sang petir lebih lama, tapi warga desa tetap mengagumi kesaktian Ki Ageng Selo. Mereka lalu membuatkan ukiran seekor ular naga dengan mulut penuh gigi taring yang sedang menganga pada pintu gerbang masjid yang dibuat untuk mengenang sang petapa sakti itu.
Ketika mencari informasi soal Ki Ageng Selo, aku menemukan sesuatu yang unik, yaitu bahwa anak-anak dan penduduk desa tempat asal sang petapa sakti itu itu akan menengadah dan mengucapkan ‘aku cucunya Ki Ageng Selo’. Konon setelah itu tidak akan ada petir yang berani menyambar terlalu dekat. Mungkin karena takut akan ditangkap lagi oleh seseorang yang punya hubungan dengan yang namanya Ki Ageng Selo.
Aku tidak tahu apakah anak-anak yang kujumpai waktu itu adalah mereka yang punya hubungan darah langsung oleh Ki Ageng Selo, ataukah hanya anak-anak bukan manusia, seperti yang sudah beberapa kali kulihat sebelumnya. Atau mungkin saja mereka hanya anak-anak spesial yang dikaruniai kemampuan tidak biasa.
Bisa jadi begitu.
Tapi yang jelas aku tidak akan pernah mengetahui jawabannya.
Sebab ketika aku teringat soal pertemuanku dengan anak-anak penangkap petir itu, semua sudah terlambat. Area perkampungan tempat mereka pulang waktu itu sudah lama digusur oleh pengembang pemukiman. Sayangnya tidak ada yang tahu ke mana mereka pergi, dan tidak ada yang tahu apakah di desa itu tinggal anak-anak aneh yang bisa menangkap petir.
Bagaikan petir, mereka tiba-tiba saja muncul di hadapanku, kemudian menghilang begitu saja tanpa jejak.
Yang jelas, kecil kemungkinan aku akan bertemu dengan anak-anak penangkap petir itu lagi.
Tapi kalau seandainya kami bertemu lagi, sudah pasti aku ingin mereka mengajariku cara menangkap dan mengurung petir seperti yang mereka lakukan waktu itu.
Kalau ada yang bertanya untuk apa, aku akan menjawab.
“Siapa tahu sang petir mau membantu meringankan beban tagihan listrik bulananku.”

****

End of 9th Spiral

Move on to the next story

No comments: